Anak Berisik Ketika Tarawih - Baitussalam Media
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ:

PILIH BAHASA

Home » , » Anak Berisik Ketika Tarawih

Anak Berisik Ketika Tarawih

Written By Unknown on Rabu, 31 Juli 2013 | 10.06



sesungguhnya yang memakmurkan masjid masjid Allah hanya orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, yang mendirikan shalat, yang menunaikan zakat dan yang tidak takut kecuali hanya kepada Allah. Mereka itu niscaya termasuk orang – orang yang mendapat petunjuk.”(Qs. At Taubah:18)

Peristiwa ini buat saya sebal dan seperti biasa kesebalan sering mengundang otak saya bekerja dengan cara yang aneh. Saya heran apa yang saya sebalkan? apa peduli saya? Mending saya shalat aja, dalam hati saya. Tetapi PR harus diselesaikan agar mempunyai jawaban yang benar sebagai langkah yang inovatif.

Adalah bukan problem solving kalau  orang tua menyikapi ributnya anak-anak kecil di masjid dengan mengumpulkan mereka anak kecil di shaf paling belakang, berjejer  jika mereka ribut maka diteriaki, dimarahi dipelototin sana sini, yang parahnya sampai mau disuruh pulang..
Dalam otak saya kembali bekerja. Bagaimana tidak ribut kalau anak-anak kecil  itu yang memang streamnya senang bermain dikumpulkan di shaf paling belakang sama teman-temannya yang lain, pastilah tambah rebut dan gaduh..,

Anggapan semacam ini (melarang) tidak sesuai dengan kebiasaan para sahabat Nabi. Karena andaikan penataan shaf anak kecil harus selalu di belakang shaf orang dewasa, tentunya akan dinukil banyak riwayat dari sahabat dan menjadi satu hal yang dikenal banyak orang, sebagaimana posisi shaf wanita yang selalu di belakang. (Hasyiyah Ibn Qosim untuk ar-Raudhul Murbi’, 2/341)

Sebagai orang tua mungkin punya sejuta alasan untuk tidak suka dengan anak-anak kecil yang ribut di masjid. Mungkin orang tua merasa ritualnya terganggu menjadi tidak khusyu’. Oke itu masalah orang tua, tapi lihat baik-baik apa yang anda tunjukkan dengan memarahi ketika anak sedang ingin shalat sesuai dengan keinginannya, berusaha bersejajar dengan shaff para orang tua adalah kebanggaan tersendiri bagai sang anak. Saya rasa memarahi anak malah jauh lebih buruk. Seharusnya di bulan penuh rahmat ini sebagai orang tua harus menjadi contoh untuk dapat menahan diri dari kemarahan. Saya melihat itu sangat tidak pada tempatnya. Saya berpikir Allah Saw mungkin lebih memaklumi anak kecil itu dibanding sikap memarahi yang anda tunjukkan.

Semoga tips ini bermanfaat,  
Berilah tugas kepada salah seorang remaja atau pengurus masjid yang kira-kira menurut anda beliau disegani oleh anak-anak kecil, atau yang sudah menjadi tanggung jawab salah satu panitia Ramadhan. Tugasnya apa?

Tugasnya untuk mengatur anak kecil untuk menempati shaf di antara orang tua, ini adalah solusi yang paling aman, yang paling dapat diterima oleh orang tua anak itu sendiri,  pastikan anak-anak kecil berada selang seling di tengah shaf orang tua, insya Allah dengan begitu paling tidak anak-anak  akan segan main-main di antara shaf orang tua..,

Nah kalau ada yang protes.. Apa boleh anak-anak berada di antara shaf orang tua??

Jawaban saya sebagai Redaksi Buletin Baitussalam boleh. Bahkan Nabi sangat mengenjurkannya, ada hadits Nabi pernah mengimami Anas ibn Malik shalat bersama anak yatim:

Neneknya, Mulaikah radliallahu ‘anha, pernah mengundang Nabi Saw untuk makan di rumahnya. Setelah selesai makan, Nabi Saw bersabda: “Bersiaplah, mari saya imami kalian untuk shalat berjamaah.” Anas mengatakan: Kemudian aku siapkan tikar milik kami yang sudah hitam karena sudah usang, dan aku perciki dengan air. Lalu Nabi Saw shalat dan ada anak yatim bersamaku (dalam satu shaf), dan wanita tua di belakang kami. Beliau mengimami shalat dua rakaat. (HR. Bukhari & Muslim)

Terus katanya ada hadits begini itu bagaimana??

“Hendaknya orang yang berada di belakangku adalah orang dewasa yang berakal, kemudian orang tingkatan berikutnya, kemudian berikutnya.” (HR. Muslim)

Maka akan kita jawab begini..
Hadits ini tidaklah melarang untuk menempati shaf pertama dan memposisikan mereka di shaf belakang. Hadis hanya menganjurkan agar para ‘ulul ahlam wan nuha‘ yaitu orang yang lebih pandai (dalam agama) untuk menempati shaf awal, berada di belakang imam. Sehingga bisa mengingatkan imam ketika lupa atau menggantikan posisi jika dia batal. Andaikan maksud hadis adalah melarang anak kecil untuk berada di depan, seharusnya lafadzkan: “Tidak boleh berada di belakangku kecuali ….” (as-Syarhul Mumthi’, 3/10)

Jamaah shalat Jum’at Rahimakumullah. Yang paling aneh dan bikin resah adalah ketika ada salah satu orang tua yang menyuruh anak-anak pulang, Astagfirullah.. Sampai ada yang berteriak-teriak menyinggung orang tua anak-anak untuk tidak membawa anak-anaknya datang ke masjid besok untuk shalat tarawih lagi, ini lebih miris lagi.. tim Buletin Baitussalam sangat prihatin akan hal seperti ini. Karena apabila sebagai orang yang seharusnya menjadi contoh menyuruh mereka pulang sama sekali bukan tindakan dewasa nan bijak apalagi untuk menjadi solusi.

Sadarkah kita kalau menyuruh mereka pulang akan membuat mereka anak-anak bergerombol keluar masjid dan kembali bisa main petasan di luar??, Bahkan jika cara-cara seperti ini diadopsi dan menjadi peraturan permanent dimasjid Baitussalam ini, maka saya khawatir generasi muda kita nantinya akan menjadikan shalat sebagai bahan mainan saja, tidk ada kekhusukan apalagi thoma’ninah didalamnya. Mending kalau anak nya cuek,  kalau anaknya sensitif perasaannya dalem terus dimarahi dan diusir pulang apa tidak bikin mereka dendam lantas trauma dan tidak senang lagi ke masjid?? ini sama saja membuat orang semakin menjauhi masjidkan? Apalagi sampai tindakan menyinggung-nyinggung orang tua anak, ini malah semakin memperparah keadaan berpotensi merusak silaturrahmi antar jama’ah..

Jadi, sudah selayaknyalah seorang anak itu dilatih sering ke masjid shalat jama’ah, untuk menumbuhkan kecintaannya kepada masjid dan shalat berjama’ah. Banyak hadits yang menjelaskan salah satunya:

“Saya melihat Rasulullah Saw mengimami jamaah, sementara Umamah binti Abil ‘Ash (cucu Nabi Saw) berada di gendongan beliau” (HR. Bukhari & Muslim)

Akhir Cerita Saya

Beberapa orang tua sepertinya terbiasa dengan Metode instan dalam mendidik, tinggal marah dan bila perlu diancam maka semua beres. Pendidikan gaya horor begitu tidak menarik dan hasilnya tidak memuaskan. Anak-anak yang saya ceritakan ini cuma terdiam sebentar mungkin karena ketakutan dan setelah berlalu beberapa menit semuanya kembali ribut seperti semula.

intinya mengingatkan siapa saja termasuk saya sendiri kalau kita-kita ini sering melupakan Keragaman Sudut Pandang dalam bersikap dan memahami. Kita terlalu asyik dengan sudut pandang kita sendiri dan tidak peduli dengan bagaimana sudut pandang pihak lain. Bukan berarti kita harus nurut-nurut saja alias disini senang disana senang. Silakan berprinsip tetapi pahami terlebih dulu sudut pandang lain sebelum bersikap karena itu akan membuat anda lebih bijak. Mari sama-sama berbenah diri 

Pesan Yang Diterima Anak
Ada beberapa hal yang perlu diketahui sebagai upaya agar anak dapat tenang ketika sedang shalat.

1. sampaikan apa yang kita mau bukan yang tidak kita mau.
ya kita sampaikan apa yang kita mau, hilangkan kata-kata negatif dari mulut kita. contoh kalimat yang dapat kita ucapkan kepada anak-anak tersebut "ayo baris yang rapi, lurus dan rapat. yang tenang ya shalatnya". hilangkan kata-kata "jangan", karena dalam sebuah sebuah penelitian anak-anak masih banyak menggunakan otak kanan mereka, dimana otak kanan ini masih diantara gelombang alpha yang artinya mereka banyak berada dalam keadaan bawah sadar dan ternyata pikiran bawah sadar manusia ini tidak kenal dengan kata-kata "jangan" . dan perlu ditekankan sesungguhnya anak-anak lebih suka kata ajakan bukan kata-kata perintah.

2. sampaikan dengan lemah lembut
kita manusia, anak-anak juga manusia yang pada hakikatnya menyukai kelembutan. anak-anak akan mau mendengarkan kita jika kita menyampaikannya dengan lemah lembut. bukan dengan menghentak atau meneriaki mereka atau bahkan dengan mengancam. ada sebuah kisah dimana seorang anak tidak mau kemasjid lagi gara-gara dimarahi oleh seorang bapak yang sempat terganggu shalatnya karena keributan yang disangka dilakukan olehnya. padahal saat itu dia diganggu oleh temen-temen yang sebaya dengannya.

3. kita buat barisan selang-seling
saat kita menggabungkan anaka-anak di satu barisan dan berada di barisan paling belakang sesungguhnya kita sedang menciptakan peluang seluas-luasnya bagi mereka untuk bermain dengan sesama mereka dibelakang. maka kita perlu membuat barisan selang seling. yang dimaksud dengan barisan selang-seling disini adalah kita buat anak-anak berada dibarisan yang diapit oleh dua orang yang sudah dewasa. ketika mereka dibariskan dengan sesama mereka maka mereka akan semangat untuk senggol kanan dan senggol kiri. namun jika mereka kita apit maka mereka akan sedikit peluang untuk bisa bermain dengan sesama mereka. kalaupun mereka masih bermain maka kesempatan mereka akan semakin kecil, emang mereka mau senggol kanan senggol kiri ma yang udah pada tua ? (ntar palingan pada dapet bogem mentah.hehehe..)

ya mungkin ini tips yang dapat saya share kepada Jamaah sekalian.
semoga bermanfaat.


 Dari beberapa sumber dalam editan pengelola dengan tidak mengurangi makna yang sebenarnya.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BAITUSSALAM MEDIA

BAITUSSALAM MEDIA

Arsip Blog

 
Support : TK/TPA Baitussalam | Remaja Masjid Baitussalam | Yayasan Baitussalam
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Baitussalam Media - All Rights Reserved
Template Design by Bani Hasyim Published by Baitussalam Media