“Dan masing-masing orang
memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan
Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”(Q.S. Al-An’aam [6]:
132)
ManajemenQolbu.Com : Jangan menuntut sesuatu kepada orang lain,
tetapi tuntutlah terlebih
dahulu diri kita untuk berbuat suatu kebaikan
semaksimal mungkin. Tidakkah Allah Azza wa Jalla telah
berfirman,”Barangsiapa yang mengerjakan kebaiakan sebesar dzarrah pun,niscaya ia
akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar
dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasannya) pula. ?”(Q.S.
Az-Zalzalah[99]:7-8 ). Artinya, segalanya tergantung kita. Sesungguhnyalah
balasan Allah itu akan sangat dirasakan adilnya mana kala kita menyadari satu
hal, yakni bahwa segalanya akan kembali kepada kita, tergantung apa bentuk amal
yang dilakukan.
Camkan sekali lagi :bahwa kita tidak akan mendapatkan
sesuatu dari apa yang kita inginkan dan harapkan, tetapi kita akan
mendapatkan banyak dari apa yang diberikan. Semakin gemar bersedekah, maka
insya Allah akan semakin melimpah rezeki hak kita dari -Nya. Semakin senang
menolong orang lain, akan semakin banyak pula orang menolong kita. Semakin
kita biasakan untuk membahagiakan dan memudahkan urusan orang lain, maka
rasakanlah, betapa akan semakin banyak hal-hal yang dapat mendatangkan
kebahagiaan sementara segala urusan kita pun dimudahkan oleh Allah Azza wa
Jalla. Hendaknya di mana kita berada harus membuat orang lain merasa
diuntungkan dengan kehadiran kita. Setidaknya keberadaan kita jangan sampai
merugikan orang lain. Rumah tangga yang memiliki komitmen hidup semacam ini
niscaya akan mendapati betapa jaminan Allah itu teramat mengesankan. “ Dan
barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati,
maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Menegtahui.”(Q.S.
Al-Baqarah[2]: 158)
Sebaliknya, semakin pelit kepada orang lain, maka
hidup ini akan terasa banyak menemukan
kesulitan. Semakin senang berlaku
aniaya terhadap orang lain, niscaya akan semakin banyak yang menzhalimi kita.
Demikian pun, rumah tangga yang banyak menyakiti orang lain, niscaya
akan menjadi rumah tangga yang banyak tersakiti pula. Inilah rumus sunatullah
yang akan dialami oleh siapapun, sebagaimana pula yang telah ditegaskan
oleh-Nya, “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang)
dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka
kerjakan. “(Q.S. Al –An’aam[6]:132)
Jadi,janganlah ingin menjadi suami
yang disayangi istri, tetapi jadilah suami yang menyayangi
istri. Janganlah
ingin dihormati oleh anak-anak atau mertua, namun hormatilah mereka. Nanti
toh semuanya akan kembali kepada kita jua. Janganlah ingin diberi sesuatu
oleh tetangga, namun berilah mereka. Nanti Allah akan menggerakkan hati
mereka untuk mengulurkan tangan bantuannya kepada kita. Walhasil, rumus yang
kedua setelah ilmu sebagai bekal utama dalam berumah tangga, adalah hendaknya
di mana pun kita berada menjadi orang yang selalu bisa berbuat sesuatu.
Itulah amal-amal kebaikan.
Ikhlas
Ternyata sehebat apapun
amal-amal kita tidak akan bermanfaat dihadapan Allah, kecuali amal-amal yang
dilakukan dengan ikhlas. Orang yang ikhlas adalah orang yang berbuat
sesuatu tanpa berharap mendapatkan apa pun ,kecuali ingin disukai oleh Allah.
Inilah bekal utama ketiga dalam berumah tangga. Dalam mengarungi kehidupan
ini akan banyak didapati aneka masalah. Kita pasti akan menemukan berbagai
kesulitan ,kesempitan, dan kesengsaraan lahir batin, kecuali kalau mendapat
pertolongan-Nya. Allah tahu persis kebutuhan kita, lebih tahu daripada kita
sendiri. Dia tahu persis masalah yang akan menimpa kita , lebih tahu daripada
kita sendiri. Karenanya, Allah menjanjikan , “Wa man yattaqillah yaj’allahu
makhrajan.” (Q.S. Ath-Thalaaq [65]: 2) Rumah Tangga yang terus-menerus
meningkatkan ketaatannya kepada Allah , akan senantiasa dikaruniai oleh-Nya
jalan keluar atas segala urusan dan masalah yang dihadapinya. Anak-anak
membutuhkan biaya , Allah akan mencukupi mereka karena Dia Dzat yang
Mahakaya. Pelacur,perampok, dan orang-orang zhalim saja diberi
rezeki,bagaimana mungkin anak-anak kita dilalaikan-Nya? Suami hatinya keras
membatu, otoriter, dan suka bertindak kasar, apa sulitnya bagi
Allah membolak-balikkan setiap hati, sehingga menjadi berhati lembut,baik,
dan bijak.
Masalahnya, adakah keluarga kita layak mendapat jaminan-Nya
ataukah tidak? Kuncinya adalah bahwa rumah tangga yang selalu dekat kepada
Allah dan sangat menjaga keikhlasan dalam beramal, itulah rumah tangga yang
layak memperoleh jaminan pertolongan -Nya. Semakin suatu rumah tangga jarang
shalat, enggan bersedekah dan menolong orang lain, malas melakukan amal-amal
kebaikan, ditambah lagi berhati busuk, maka semakin letihlah dalam mengelola
rumah tangga ini. Rumah seluas apa pun akan tetap terasa sempit kalau hati
para penghuninya sempit. Ketika berada di lapangan yang luas , lalu menemukan
anjing atau ular, kita toh tidak merasa gentar. Akan tetapi, ketika di kamar
mandi , berdua dengan tikus saja bisa jadi masalah. Apa sebab ? Di ruangan
kecil, perkara kecil akan menjadi besar. Sebaliknya diruangn yang
lapang, perkara besar akan menjadi kecil. Karenanya, rumah tangga itu akan
dirasakan kebahagiaannya hanya oleh orang-orang yang berhati bersih dan
ikhlas. Bila kita temukan beberapa kekurangan pada istri kita , bukan
masalah , karena toh isteri kita bukan malaikat. Demikian pun kekurangan yang
ada pada suami, janganlah sampai jadi masalah, karena suami pun bukan malaikat.
Kekurangan yang ada untuk saling dilengkapi, sedangakan kelebihannya untuk
disyukuri. Lain lagi,bagi yang berhati busuk, kekurangan yang ditemukan pada
istri atau suami akan dijadikan jalan untuk saling berbuat aniaya.
Na’udzubillah! [manajemenqolbu.Com]***
(Bersambung)



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !