2. Maqom Seorang Hamba Didunia - Baitussalam Media
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ:

PILIH BAHASA

Home » , » 2. Maqom Seorang Hamba Didunia

2. Maqom Seorang Hamba Didunia

Written By Unknown on Jumat, 19 September 2014 | 17.29


Bab:2
“Kehendakmu untuk menggapai maqom Tajrid padahal kehendak Allah mendudukkanmu dimaqom asbab adalah kehendak syahwat yang halus. Dan kehendakmu untuk menduduki maqom asbab padahal kehendak Allah mendudukkanmu di maqom tajrid berarti engkau telah turun dari tingkat yang sangat tinggi.”

Barang siapa yag tidak mengenal dirinya berarti tidk mengenal Tuhannya. Begitulah kurang lebih bunyi sebuah hadist Nabi SAW. Oleh karena itu manusia harus mengenal dirinya sendiri. Dalam kaitan ini mengenal maqom hidup adalah bagian terpenting yang harus dilakukan manusia, sebab, dengan mengenal maqom hidup itu, seorang hamba dapat mengisi aktifitas pengabdiannya dengan benar, baik kepada diri sendiri, lingkungan maupun kepada Tuhannya. Itu disebabkan karena maqom hidup itu mampu mereka jadikan sebagai landasan hidup. Apabila maqom hidup itu tidak dikenali, manusia akan selalumengalami kebingungan dalam hidupnya. Akibat dari itu mereka akan tersesat dan terjerumus dalam kerugian hidup yang fatal.

Maqom Hidup itu ialah, pertama Tajrid dan kedua Asbab:

Pertama: Maqom Tajrid
Yang dimaksud maqom tajrid adalah kedudukan hidup manusia, dimana dengan maqom itu sumber rezeki (kebutuhan hidup) manusia dimudahkan oleh Allah SWT. Sumber rezeki itu didatangkan sendiri dengan tanpa harus dicari dan di ikhtiari. Mungkin datangnya rezeki itu melalui sebab-sebab, namun sebab-sebab itupun adalah sesuatu yang didatangkan dengan mudah kepada dirinya.

Sebagaimana contoh kehidupan ulama suci lagi mulia, yang setiap hari kegiatan mereka hanya mengurus santri dan murid-murid serta jamaahnya, sehingga tidak kebagian waktu untuk memikirkan sumber rezeki secara lahir. Namun ternyata kebutuhan hidup mereka mendapat kecukupan. Bahkan terkadang melebihi kecukupan hidup orang-orang yang setiap hari sibuk mencari nafkah. Dengan maqom tajrid itu seorang hamba yang arifin hanya membaca sebab-sebab yang didatangkan, kemudian ditindak lanjuti dengan amal (ikhtiar). Kalau kemudian jalan ikhtiar itu dimudahkan, maka mereka akan mendapatkan rezeki yang telah ditetapkan baginya sejak zaman azali.

Kedua: Maqom Asbab
Adapun maqom asbab adalah suatu maqom dimana rezeki seseorang tidak didatangkan kecuali melalui sebab-sebab yang diusahakan dan di ikhtiari sendiri. Mereka tidak mendapatkan sumber kehidupan kecuali dari jalan ikhtiar yang dilakukan. Untuk itu mereka harus berikhtiar dan berusaha. Mencari dan menciptakan peluang supaya terbuka baginya sebab-sebab, setelah sebab-sebab itu terwujud, baru ditindak lanjuti dengan amal. Hal itu seperti keadaan yang dialami kebanyakan manusia.

Oleh karena itu, sejak awal kehidupannya manusia harus mampu menciptakan sebab-sebab itu. Sejak mencari ilmu pengetahuan dibangku sekolah, melamar pekerjaan dan menciptakan sumber-sumber penghasilan. Setelah itu manusia harus menindaklanjuti lagi dengan usaha sampai mendapatkan apa-apa yang diharapkan. Apabila jalan usaha itu dimudahkan , berarti mereka akan mendapatkan rezeki yang telah ditetapkan untuknya sejak zaman azali.

Apabila kedua maqom hidup tersebut dikaitkan  “usaha dan tawakkal” sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT dalam sebuah firman-Nya:

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (ber’azam), maka bertawakkallah kepada Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS: Ali-Imran: 159)

Orang yang melaksanakan maqom tajrid adalah orang yang bertawakkal dahulu baru berusaha. Maksudnya, dengan segala pengabdian yang dijalani, mereka juga membaca keadaan yang datang . ketika realita itu menunjukkan sebab-sebab untuk terbukanya sumber penghidupan, baru mereka ber’azam untuk menindaklajutinya dengan ikhtiar.

Berbeda degan orang yang melaksanakan maqom asbab. Orag yang melaksanakan maqom asbab itu harus ber-azam untuk membangun suatu usaha sumber kehidupan, baik dari memulai menciptakan sebab-sebab, sampai menindaklanjuti sebab itu dengan usaha dan perjuangan. Setelah usaha itu berjalan dengan baik, untuk hasilnya, baru kemudian mereka bertawakkal.

Ibarat permainan bola dilapangan, usaha hidup seseorang yang menerapkan maqom tajrid seperti seorang pemain bola yang menunggu bola datang. Setelah bola itu datang dan dikuasai, mereka kemudian harus mampu memasukkannya ke gawang musuh (lawan). Adapun orang yang menerapkan maqom asbab,  dari awal mereka harus memiliki inisiatif penyerangan untuk menguasai bola, menggiring, dan kemudian berusaha untuk memasukkannya ke gawang. Jadi maqom tajrid itu bertawakkal dahulu baru berusaha, sedangkan maqom asbab berusaha dahulu baru bertawakkal.

JANGAN INGIN PINDAH DARI SATU MAQOM KE MAQOM YANG LAIN

“Kehendakmu untuk menggapai maqom Tajrid padahal kehendak Allah mendudukkanmu dimaqom asbab adalah kehendak syahwat yang halus. Dan kehendakmu untuk menduduki maqom asbab padahal kehendak Allah mendudukkanmu di maqom tajrid berarti engkau telah turun dari tingkat yang sangat tinggi.”

Maqom tajrid itu adalah maqom yang mulia, yang merupakan karunia besar yang dianugerahkan Allah SWT kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Selama pemiliknya masih hidup didunia, keadaan orang tersebut baik dari hal yang berkaitan dengan urusan ukhrowi maupun urusan duniawi akan mengalami gejala sebagaimana sifat kehidupan dunia pada umumnya. Yakni terjadi pasang surut sebagaimana pasang surutnya air laut.
Ketika tajridnya naik, rizki orang tajrid itupun akan ikut naik. Rezeki itu didatangkan bagaikan air laut yang sedang pasang. Sumbernya memancarkan terus-menerus seakan tidak bisa putus lagi. Namun ketika tajridnya sedang turun, mereka terkadang mengalami kekeringan yang amat sangat. Seperti  musim kemarau panjang yang seakan tidak dapat hujan lagi. Keadaan seperti ini bagi seorang tajrid merupakan bentuk ujian yang sangat berat.

Betapa tidak, ketika dia harus menghadapi desakan kebutuhan yang tidak dapat dielakkan,  semisal menghadapi tuntutan kehidupan sebagai seorang kepala rumah tangga, mereka melihat kesulitan hidup yang dihadapi anak-anak dan istrinya, bahkan kadang-kadang dihadapkan pada masalah yang berat. Anaknya sedang sakit keras misalnya. Padahal sedikitpun ia tidak dapat berusaha untuk membawanya kerumah sakit, karena tidak tersedianya sarana dan dana. Dalam keadaan seperti ini, seorang tajrid tetap harus menunggu sebab yang datang.mereka tidak boleh mengusahakan sebab itu meski dihadapkan dengan kematian misalnya.

Seandainya dia masih menduduki maqom asbab seperti dahulu, barangkali dia masih dapat berusaha, walau hanya untuk mendapatkan pinjaman dari makhluq misalnya. Akan tetapi dimaqom tajrid tidaklah demikian, ketika sebab yang pertama tidak berada ditangan, datangnya sebab itu tidak boleh diharapkan dari makhluq. Sebab, apabila itu dilakukan berarti akan menurunkan pada derajat maqom asbab.

Dia hanya menunggu kepastian yang akan terjadi, apapun yang akan terjadi  yang demikian itu lebih baik baginya daripada harus menyandarkan harapan kepada makhluk. Hal itu sebagai konsekwensi maqom yang diduduki tersebut. Untuk itu, dalam keadaan yang bagaimanapun dia harus mampu memilih mana yang boleh diusahakan dan mana yang tidak.

Seorang tajrid harus mampu meredam gejolak hatinya. Sedikitpun mereka tidak boleh menyandarkan harapannya kepada sebab-sebab, tetapi hanya menyandarkan kepada yang menyebabkan sebab-sebab. Meskipun kemudian, ketika saatnya Allah SWT menurunkan pertolongan-Nya, tentu pertolongan-Nya melalui sebab-sebab pula. Namun datangnya sebab-sebab itu bukan dari arah yang dikehendaki, dan bukan pula dari usahahanya sendiri. Menghadapi kejadian seperti itu, kadang-kadang hati mereka sempat menjadi goyang, bahkan hampir-hampir putus asa.

Jika dalam menghadapi ujian seperti saat itu mereka lantas ingin kembali turun ke maqom asbab, maka mereka akan berusaha mendapatkan sebab-sebab yang datang dari makhluk supaya cepat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Apabila ada kiinginan seperti itu, berarti mereka telah turun dari cita-cita yang tinggi.

Sedikitpun hati mereka tidak boleh goyah.  Apapun yang terjadi harus dihadapi dengan suatu keyakinan, bahwa pilihan yang Allah SWT untuk dirinya tidaklah ada yang salah. Pilihan itu pasti selalu benar, walau bentuknya berupa kesulitan hidup yang sangat keras. Mereka juga harus yakin, apabila kesulitan itu telah berlalu, kemudahan yang baik dan pahala yang besar telah menunggu dibaliknya.

Apabila seorang tajrid itu mampu menjalani ujian itu dengan sempurna, mereka mampu melewatinya dengan hati yang selamat dan tawakkal. Setelah melewati titik kulminasi yang telah diitetapkan, Allah SWT akan mengubah kesusahan itu menjadi kegembiraan yang besar. 

Namun ternyata apabila mereka tidak kuat dan putus asa, meninggalkan tawakkal dan turun ke maqom asbab, berarti mereka telah turun dari cita-cita yang mulia menuju lembah kehinaan yang nyata. Hanya Allah SWT yang selalu menolong hamba-Nya menuju jalan ridho-Nya.

PERJALANAN SANG MUSAFIR
Seorang asbab, ketika dikehendaki Allah SWT untuk naik ke maqom tajrid, ia akan diperjalankan melalui proses kehidupan yang logis. Hanya Allah SWT yang menghendaki. Perpindahan antara dua maqom itu akan berjalan melalui sebab-sebab yang logis. Dalam kaitan itu seorang hanba yang mata hatinya cemerlang dan tanggap, akan mengikuti proses perpindahan maqom itu hanya dengan membaca dan mengikuti tanda-tanda yang ditebarkan dalam realitas kehidupan.

Sebelum sampai ke maqom tajrid, biasanya seorang hamba terlebih dahulu akan didudukkan di maqom “asbabut tajrid” Yakni, keadaan  dimana yang meski sumber rezekinya tercukupi dari sebab usaha, namun usaha itu  adalah usaha yang dimudahkan. Usaha apapun dalam bidang ekonomi yang dilakukan, selalu mendapatkan kemudahan dan lancar tanpa hambatan. Dalam maqom asbabut tajrid ini rezeki seorang hamba berlimpah ruah, hingga rezeki itu tidak tertampung dalam pengelolaan hidup baik itu secara rasional terlebih secara sepiritual.

Hal itu bukan dari banyaknya rezeki sehingga tidak tertampung didalam kantong uang dan rekening bank, akan tetapi karena ruangan dalam hati telah terlebih dahulu dipenuhi urusan akhirat, sehingga urusan dunia hanya mendapatkan bagian yang kecil. Akibatnya, dengan mengurusi harta yang sedikit saja, seakan-akan kesibukan hatinya menjadi terganggu, bahkan merasa tidak membutuhkan lagi kepada harta benda tersebut.

Mereka merasa cukup dengan hartanya sekedar yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan ibadah. Padahal urusan ibadah yang dibutuhkan saat itu hanya untuk memenuhi diri sendiri dan keluarganya saja, belum untuk kebutuhan masyarakat dan lingkungan. Oleh karena itu, mereka merasa keberatan dengan hartanya, seperti repotnya seorang penggembala dengan domba-domba majikannya. Merasa berat dalam memelihara hartanya sebagaimana seorang budak memelihara kuda majikannya.

Hal itu disebabkan lantaran hatinya tidak merasa memiliki pemilikan itu, meski harta itu sesungguhnya didapatkan dari hasl usaha yang dijalani. Juga meraka merasa yakin bahwa segala kenikmatan itu, nantinya akan dituntut dan dipertanyakan untuk dapat mempertanggungjawabkan dihadapan peilik yang sesungguhnya. Untuk itu, didalam do’a-do’a yang dipanjatkan kepda junjungannya, dia selalu minta supaya dimatikan didalam keadaan miskin saja.

Dia takut mati dengan meninggalkan warisan harta benda. Sebab, harta peninggalan itu bisa jadi akan berakibat buruk kepada yang meninggalkannya. Akibatnya, sedikitpun tidak ada harta bendanya yang diatasnamakan pribadi. Semuanya telah diserahkan kepada yang berhak sebelum ajal kematiannya tiba. Bahkan dia selalu bingung memikirkan hartanya sebagaimana orang lain bingung memikirkan hutangnya.

Jika Allah SWT berkehendak menyempurnakan kedudukannya pada maqom tajrid, Allah SWT mengabulkan segala harapannya. Harta yang masih dimiliki dihabiskan dari pengusaannya, sehingga orang lain yang melihatnya menjadi susah dan bingung. Namun diriya menerima kenyataan itu dengan senang hati dan damai seperti budaj belian yang telah dimerdekakan oleh majikannya.

Lalu sedikit demi sedikit keadaan diubah. Yang asalnya jelek menjadi baik, yang asalnya kurang baik menjadi lebih baik. Teman-temannya yang dahulu hanya yang berkaitan dengan urusan dunia, kini diganti teman-teman baru yang berkaitan dengan urusan akhirat.
Bahkan anggota keluarganya, karena dahulu rumah tangga itu hanya dibangun dengan landasan dunia saja, ketika sudut pandang hatinya telah berubah, maka berubah pula orientasinya, dari yang dahulunya hanya untuk dunia saja, kini yang utama adalah akhiratnya. Perbedaan sudut pandang antar anggota keluarga menjadi persoalan ketika mereka gagal menyatukan atau memahami sudut pandangnya itu.

Namun demikian, sesuatu yang asalnya palsu ketika menjadi asli, ia secara naluriyah akan mengajak dan menuntut supaya kepalsuan juga menjadi asli, maka yang palsu itu akhirnya terpental dan terpaksa meninggalkan diri. Itulah konsekwensi maqom kehidupan yang harus dijalani. Proses kejadian alamlah yang telah menyeleksi. Sehingga melalui realitas yang logis, satu demi satu anggota keluarga itu meninggalkan dirinya dan akhirnya berganti menjadi anggota keluarga baru yang lebih dapat saling mengerti:

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” (QS: At-Tahrim: 5)

Ketika saatnya Allah SWT berkehendak memindahkan hamba-Nya itu kealam kehidupan yang lebih kekal, maka Allah SWT benar-benar mematikan dalam keadaan hati yang bersih dari kepemlikan dunia. Bukan berarti mati dalam keadaan harta benda, akan tetapi kadang-kadang justru dalam keadaan berlimpah. Seluruh kekayaan itu, sebelumnya telah terlebih dahulu dikeluarkan dari hak kepimilikan secara pribadi, dan diserahkan kepada pemiliknya yang hakiki yaitu ALLOH SWT.

Allahu 'alam Bish-showab

******************************
Dikutip dari: Syarah Hikam, Ibnu Athoillh
Oleh: Muhammad Luthfi Ghozali
Diposkan oleh: Musyahadi Al-Hasyim
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BAITUSSALAM MEDIA

BAITUSSALAM MEDIA

Arsip Blog

 
Support : TK/TPA Baitussalam | Remaja Masjid Baitussalam | Yayasan Baitussalam
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. Baitussalam Media - All Rights Reserved
Template Design by Bani Hasyim Published by Baitussalam Media