“Kemauan yang menggelora tidak akan mampu menembus tirai taqdir”
Seorang pengembara (salik) dijalan Allah SWT, melakukan pengembaraan ruhaniyah dengan melaksanakan mujahadah dan riyadhoh dalam rangka dalam rangka menggapai cinta dan cita. Hal ini dilaksanakan sebagai pelaksanaan pengabdian secara totat kepada junjungannya, serta melatih diriuntuk meningkatkan kekuatan iman dan keyakinan. Mereka melaksanakan perintah kitab suci yang dinyatakan dalam Firman-Nya:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keidhoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungghnya Allah SWT benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-Ankabuut: 69)
Fenomena yang terjadi sejak dahulu sampai sekarang, pengembaraan ruhaniyah itu seringkali mereka laksanakan dengan bersungguh-sungguh. Terkadang bahkan dengan cara yang berlebih-lebihan. Mereka melupakan urusan yang lain dan mengorbankan kepentingan duniawi. Yakni untuk sementara meninggalkan hak dan kewajiban sebagai anggota keluarga dan anggota masyarakat.
Baik dalam sendiri maupun dalam kelompok kecil, mereka melakukan perjalanan suci tersebut. Beriktikaf dengan bersafari dari satu masjid kepada masjid yang lain, dan kadang pula dengan menyepi dan mengasingkan diri dari dunia ramai, tinggal di dalam gua-gua ditengah hutan, bahkan bermukim dalam waktu-waktu tertentu di komplek-komplek makam Waliyullah.
Betapapun kerasnya usaha seorang hamba untuk menggapai segala cita-cita dan harapannya, baik yang berkaitan dengan urusan agama, dunia maupun urusan akhirat, namun sesungguhnya mereka tidak akan mampu melewati batas yang telah digariskan oleh taqdir Allah SWT baginya. Demikianlah yang dimaksud oleh Asy-Syeikh Ibnu ‘Athoillah, dalam konsepnya diatas:
“Kemauan yang menggelora tidak akan mampu menembus tirai taqdir”
Memang seorang hamba harus memuliainya dengan bekerja dan berusaha. Menyingsingkan lengan baju, mencangkul dan membajak sawah, memilih benih-benih unggul, membaca pergantian musim dan mengalirkan air dari sumber mata airnya. Akan tetapi, ketika benih ditangan akan ditanam, hendaknya benih itu ditanam ditanah yang tepat dan cocok dengan benihnya. Kalau tidak, berapapun telah dilakukan dengan memeras darah sekalipun, kalau benih itu tidak ditanam ditanah yang tepat, benih itu tidak akan tumbuh dengan sempurna. Kalau pun bisa tumbuh, tanaman itu tidak akan berbuah dengan baik. Kalau sampai demikian, berarti pekerjaan itu menjadi sia-sia. Amaliyah itu hanya seperti debu bertebaran yang kemudian akan hilang samasekali.
Setiap jenis tanah pasti mempunyai jenis kekhususan tersendiri. Disitulah awal indikator rahasia garis taqdir Allah SWT terhadap seorang hamba dapat terbaca oleh mata hati yang ‘arifin. Adapaun tanah yang dimaksud bukan hanya tanah yang ada dipermukaan bumi saja, akan tetapi juga tanah bumi yang berada didalam dada seorang hamba yang beriman.
Allah SWT telah menetapkan sunnah-Nya dengan menciptakan gari-garis batas dan tanda-tanda yang jelas terhadap setiap jenis makhluk yang diciptakannya:“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS: Ali-Imran: 190)Yang sejak diciptakan-Nya, tidak akan ada perubahan lagi baginya.
Seorang petani yang baik, tidaklah hanya mampu mengenali jenis unggul saja, namun juga harus mampu mengenali jenis-jenis tanah dan gejala pergantian musim serta jenis-jenis penyakit serta obat-obatan. Hal itu agar apa yang diusahakan minimal dapat mendekati kebenaran. Pekerjaan itu tidak melenceng dari suratan taqdir yang tidak dapat ditembus oleh usaha yang bagimanapun dari seorang hamba.
MENYATUKAN DUA KEHENDAK
Menanam benih itu tidak harus ditanah orang lain saja, namun yang lebih penting adalah ditanahnya sendiri, yakni hatinya sendiri. Misalnya, dengan zikir yang diniatkan untuk melaksanakan mujahadah kepada Allh SWT sebagai perwujudan membangun sebab-sebab untuk mendapatkan akibat yang baik. Dengan amaliyah itu seorang hamba berharap dibukakkan hatinya untuk menerima Nur Ma’rifat serta rahasia ke-Besaran-Nya. Maka dalam hal ini, hendaklah seorang hamba ingat bahwa firman Allah SWT dalam Al-Qur’anul Karim, yang artinya:
“Padahal Allah SWT-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” (QS: Ash-Shoffat: 96)
Artinya:
Apapun yang dikerjakan itu, sesungguhnya seperti dirinya juga, pekerjaan itu adalah ciptaan Allah SWT pula. Oleh karena itu, sejak pertamakali dilaksanakan, hendaknya zikir itu diberangkatkan dengan pemahaman yang kuat, bahwa zikir yang sedang dilaksankan itu adalah sebuah pelaksanaan (taqdir) yang telah ditetapkannya sejak zaman azali.
Orang yang berzikir itu harus mampu meredam kemauan Basyariyah-nya dan mengembalikan kepada ketetapan taqdir azaliyah, serta menjiwai lafadz-lafadz zikir yang sedang dibaca dengan dasar keyakinan,bahwa seorang hamba hanya sebagai pelaksana yang sekarang sedangkan Allah SWT adalah perencana pekerjaan itu sejak zaman azali.
Ketika irodah hadist dan irodah azali telah menyatu dalam satu semangat, seorang hamba berziikir dengan usahanya dan Sang Junjungan berzikir dengan kekuasaan dan izin-Nya. Maka yang asalnya lemah karena dilaksanakan pada dimensi hadist akan menjadi kuat karena dilaksanakan dalam nuansa kebersamaan dengan dimensi qadim.
Selanjutnya terjadilah apa yang disebut dengan “Tauhidul Fi’li” atau “Satu dalam perbuatan” Yang satu adalah perbuatan hamba secara majasi, dan yang satunya adalah perbuatan Sang Junjungan secara hakiki. Kemudian seorang hamba hendaknya mengingat lagi, bahwa Allah SWT berfirman: artinya:
“Dan kamu tidak akan menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali bila dikehendaki Allah SWT, Tuhan semesta alam.” (QS: At-Taqwir: 29)
Artinya:
Sesungguhnya apa yang dilaksanakan itu semata-mata hanya berangkat dari kehendak yang satu, yaitu Allah SWT, Tuhan yang menciptakan alam semesta. Kehendaknya adalah sebab pertama, kemudian dari sebab itu timbullah kehendak berikutnya yang tersusun sesuai sekenario yang tertib sebagai sebab-sebab sampai kemudian timbullah satu akibat yang baik, yakni kehendak seorang hamba untuk melaksankan zikir kepada Tuhan-Nya.
Dengan demikian, apabila kehendak yang hadist telah menyatu dengan kehendak yang qadim,maka sesungguhnya tidak ada lagi yang berkehendak kecuali hanyalah kehendakAllah Robbul ‘alamiin.
==============
Dikutip dari: Syarah Hikam, Ibnu Athoillh
Oleh: Muhammad Luthfi Ghozali
Diposkan oleh: Musyahadi Al-Hasyim
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !